Pontianak, 24 Oktober 2020 Kami, perwakilan masyarakat adat, perempuan adat, organisasi masyarakat sipil dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sarawak-Malaysia, dan Inggris peserta Lokakarya Advokasi Pemulihan, Pemenuhan dan Pemajuan Hak Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal di Wilayah Perbatasan Kalimantan, pada tanggal 23-24 Oktober 2020, di Hotel Golden Tulip, Pontianak, Kalimantan, diselenggarakan atas kerjasama Wahana […]

Read More

Koalisi Organisasi Masyarakat Adat dan Masyarakat Sipil menyampaikan laporan kepada Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial, Perserikatan Bangsa-Bangsa menolak segala ancaman terhadap hak masyarakat adat di Kalimantan 15 Juli 2020 ” Di Kalimantan Timur, sebagai contoh, antara tahun 2012 dan 2016, luas lahan yang diperuntukkan untuk perkebunan kelapa sawit meningkat sebanyak 36% dan kabupaten-kabupaten penghasil kelapa sawit […]

Read More

Selain masyarakat modern, kajian terhadap masyarakat tradisional pun mendapat sorotan karena perbedaan sistem ekologis. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat tradisional menganggap dirinya bukan suatu agen bebas dalam kosmos, melainkan suatu fungsi dari keseluruhan yang besar. Kehidupannya di dunia tidaklah bebas, melainkan harus menjaga keseimbangan dan keselarasan dengan kosmos (wessing, 1978).

Kampung Mului

Demi menjaga keseimbangan kosmos, biasanya mereka berpedoman pada ritual adat yang menjadi bagian dari budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi sebagai pedoman untuk mencapai kehidupan yang baik. Oleh karena itu, bertindak melawan tatanan menjadi hal yang selalu di hindari.."makhluk halus" merupakan simbol kekuatan yang bisa merusak tatanan sosial. Dalam konteks dunia modern, sistem keyakinan seperti ini dapat dilihat sebagai bentuk konservasi bersifat tradisional. Melalui nilai dan makna sosial budaya, manusia dapat membentuk lingkungan sekaligus dipengaruhi kondisi lingkungan dengan cara yang berbeda dengan spesies lainnya. Manusia menyadari bahwa kehidupan akan sangat bergantung pada lingkungan tempat mereka tinggal....

_____________

Seperti teman-teman yang lain, yang juga mendapat tugas lapangan dari Sekolah Involvement, saya melalui PADI Indonesia mendapati tugas untuk melakukan pemetaan sosial di Kampung Mului, Desa Swan Slutung, Paser, Kalimantan Timur selama 3 bulan lamanya di tahun 2017. Tentu bisa di pastikan bahwa yang saya lakukan di sana tidaklah semua melulu tentang riset dan bagaimana mengelola data, tetapi banyak waktu yang saya gunakan untuk dekat dengan warga, bermain voli, bulu tangkis, memasak, hingga masuk hutan untuk berburu..Pergi keluar-masuk hutan merupakan aktifitas sehari-hari masyarakat adat kampung Mului dalam hal penambahan ekonomi, mencari makan. Kegiatan penambahan kebutuhan ekonomi misalnya, masyarakat adat kampung Mului biasanya memanfaatkan hasil hutan non kayu, seperti mengambil rotan guna keperluan membuat gelang serta anyam-anyaman lainnya. Gelang atau anyam-anyaman tersebut nantinya akan di jual kepada tamu yang datang sebagai cinderamata khas dari Mului.Kegiatan lainnya yakni memasang jerat burung seperti di foto ini. Burung yang akan di jual nanti biasanya merupakan jenis-jenis burung lokal. Cara menjualnya, setiap 3 kali dalam 1 minggu selalu ada pembeli yang datang dari Kecamatan dan sekitaran Desa. Harganya pun bervariasi tergantung jenis burung yang dijual..Rutinitas pemanfaatan hasil alam ini adalah bagian terpenting bagi warga kampung Mului, karena bukan hanya pergi kehutan untuk mencari penambahan ekonomi dan kebutuhan pangan saja, tetapi ini menjadi sebuah metode untuk bagaimana sekaligus masyarakat bisa keliling mengontrol kawasan mereka tanpa pulang dengan tangan kosong.

Read More

( Awal mulanya ada seorang manusia yang  bernama Silu dan Ine Lintai di tanjung tasik(Pesisir) mereka hidup terpisah, silu tersebut mempunyai anak buah yaitu tawon yang menghasilkan madu, diantara jarak silu dengan inelintai tersebut hidplah seorang mahluk gaib atau dalam bahasa muluy disebut ‘Uwok’ , yaitu sebutan yang biasa di gunakan untuk menyebut hantu, hantu […]

Read More

Bogor, 12 Februari 2019. 60 organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Jaringan Pemantau Independen Kehutanan menilai terbitnya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No 106 tahun 2018 akan berdampak meningkatnya laju kehilangan hutan alam di Indonesia. Peraturan ini telah membebaskan status perlindungan terhadap spesies kayu endemik yang sebelumnya dilindungi sehingga bebas untuk dimanfaatkan dan diperdagangkan. […]

Read More

Jalan panjang telah di lalui oleh masyarakat adat mului untuk mendapatkan pengakuaan hutan adatnya, karnaha untuk mendapatkan hutan adat maka harus di akui dulu masyarakat adatnya, di awali dengan pendaftaran, ferifikasih hingga sekarang penyerahan SK MHA kepada masyarakat adat mului, di butuhkan kesabaran dan ketabahan untuk mempetahankan keberadaan mereka sebagai masyarakat adat. Hampir sebagian besar […]

Read More

Setelah melewati beberapa Diskusi Terfokus PADI Indonesia dan Perkumpulan HuMa bersama Wakil Bupati Paser, Sekertaris Daerah Paser, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Paser, serta beberapa Akademisi dan di bantu oleh beberapa ahli, akhirnya mengeluarkan PERATURAN BUPATI PASER Nomor 67 Tahun 2017 tentang PEDOMAN IDENTIFIKASI, VERIFIKASI DAN PENETAPAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DI KABUPATEN PASER. PERBUB ini […]

Read More

Surat Keputusan BUPATI PASER nomor 189.1/KEP-460/2017, Kalimantan Timur tentang Pembentukan Panitia Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten PASER. Menetapkan LSM PADI Indonesia atas nama Ahmad SJA sebagai bagian dari panitia Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Paser, tertanggal 23 Agustus 2017 SK Panitia MHA Paser 2017  

Read More

Pelatihan Kapasitas CSO Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkeadilan Gender Dan Inklusi Sosial Di Landscape Bulungan Gender dan Sumber Daya Alam (SDA) merupakan dua hal yang tidak dapat di pisahkan, sejak awal proses manusia mulai memanfaatkan alam untuk bertahan dan melanjutkan hidup maka sejak itu pulalah nilai-nilai gender terintegrasi dan terbukti mampu menjaga keseimbangan alam […]

Read More